Lebih baik menunggu sampai siang hari jika tidak ada bahaya langsung
Jika kapal atau orang di laut tidak sedang dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa secara langsung, maka penyelamatan sebaiknya menunggu sampai hari terang (siang hari).
Hal ini dilakukan agar situasi lebih terlihat jelas, risiko lebih kecil, dan operasi penyelamatan dapat berjalan lebih aman.
Mengapa harus menunggu sampai siang hari?
-
Cahaya lebih baik → visibilitas tinggi
Pada siang hari, tim penyelamat bisa melihat kondisi kapal, ombak, arus, dan survivor dengan jelas. -
Mengurangi risiko kecelakaan
Pada malam hari, bahaya seperti kapal terhempas ombak, perahu penyelamat terbalik, atau salah manuver lebih besar. -
Memudahkan komunikasi & koordinasi
Perintah, isyarat tangan, dan gerakan lebih mudah dilihat. -
Lebih aman bagi penyelamat dan korban
Operasi SAR (Search and Rescue) di malam hari lebih berbahaya dan memakan waktu lebih lama.
Kaitannya dengan STCW dan SOLAS
Walaupun STCW dan SOLAS tidak selalu menyebutkan kalimat persis “wait for daylight”, kedua konvensi menekankan prinsip:
1. SOLAS – Keselamatan jiwa adalah prioritas
SOLAS mengatur bahwa setiap operasi di laut harus dilakukan dengan risiko paling rendah, termasuk dalam pengoperasian lifeboat, rescue boat, dan penyelamatan korban.
Jika tidak ada bahaya langsung, menunggu kondisi paling aman (siang hari) adalah tindakan yang sesuai prinsip SOLAS.
2. STCW – Kompetensi dalam operasi penyelamatan
STCW mengatur bahwa awak kapal harus memahami:
-
cara penyelamatan di laut
-
cara menilai risiko
-
kapan harus meluncurkan sekoci
-
kapan menunda operasi untuk keselamatan
Dalam latihan dan modul penyelamatan STCW, diajarkan bahwa operasi penyelamatan harus dilakukan dalam kondisi paling aman, termasuk menunda hingga daylight bila keadaan tidak mendesak.
Tim penyelamat hanya akan menurunkan dan menggunakan rescue boat atau motor lifeboat kalau situasi aman, misalnya ombak tidak terlalu tinggi, angin tidak terlalu kencang, dan kapal tidak berada dalam posisi berbahaya.
Mengapa harus melihat kondisi dulu?
-
Keselamatan penyelamat dan korban, jika cuaca buruk atau laut terlalu kasar, sekoci bisa terbalik, rusak, atau sulit dikendalikan.
-
Risiko kecelakaan lebih besar pada laut buruk, dalam kondisi ekstrem, lebih aman menunggu atau menggunakan metode penyelamatan lain (seperti liferaft, tali, helicopter rescue, atau menunggu daylight).
-
Perintah keselamatan, SOLAS menekankan bahwa penggunaan perahu penyelamat harus dilakukan dengan risiko minimum bagi semua orang yang terlibat.
-
Kewajiban kompetensi dalam STCW mengajarkan bahwa awak kapal harus menilai kondisi sebelum meluncurkan boat, termasuk:
-
keadaan cuaca
-
tinggi gelombang
-
arah angin
-
posisi kapal
-
bahaya di sekitar (api, minyak, reruntuhan kapal, dll.)
Hubungan dengan STCW dan SOLAS
1. SOLAS – Life-saving appliances & launching arrangements
SOLAS mengatur bahwa peralatan penyelamat jiwa seperti lifeboat dan rescue boat harus digunakan dengan prosedur aman, dan peluncurannya hanya dilakukan bila kondisi memungkinkan untuk menghindari bahaya bagi pelaut dan korban.
2. STCW – Proficiency in survival craft & rescue boats
STCW mengajarkan awak kapal untuk:
-
memahami kapan sekoci dapat diluncurkan
-
memastikan kondisi aman
-
memilih metode penyelamatan yang paling sesuai
-
tidak memaksakan penggunaan rescue boat jika gelombang atau angin terlalu kuat
Ini sesuai dengan prinsip STCW: “laksanakan operasi penyelamatan dengan keselamatan maksimal.”
“Peralatan yang tidak diperlukan harus dikeluarkan dari perahu penyelamat dan diganti dengan perlengkapan keselamatan seperti lifejacket, lifebuoy, immersion suit, selimut, dan radio VHF portabel.”
Sebelum melakukan penyelamatan, perahu penyelamat harus dibuat ringan, rapi, dan hanya membawa perlengkapan yang benar-benar penting untuk menyelamatkan orang.
Semua barang yang tidak penting akan mengganggu ruang, menambah beban, dan menghambat proses evakuasi.
“Dalam cuaca buruk, kedua kapal dapat menyebarkan minyak ke laut jika tangki, pipa, atau badan kapal mereka rusak akibat gelombang dan guncangan.”
Saat laut bergelombang tinggi dan kapal dihantam angin kencang, bagian kapal seperti pipa bahan bakar, tangki minyak, atau sambungan bisa terganggu atau rusak.
Jika ada kebocoran, minyak dari salah satu atau kedua kapal bisa terhempas dan tersebar luas oleh ombak.
Mengapa kapal bisa menyebarkan minyak saat cuaca buruk?
-
Guncangan kuat dari gelombang, ombak besar dapat membuat kapal terbentur berulang kali sehingga pipa dan tangki bisa retak atau bocor.
-
Pergerakan kapal yang tidak stabil, kapal yang miring, terguncang, atau dihantam ombak dapat menyebabkan minyak tumpah dari sistem bahan bakar atau ruang mesin.
-
Kerusakan struktur kapal, cuaca ekstrem bisa menyebabkan kerusakan pada hull (badan kapal) sehingga minyak keluar ke laut.
-
Minyak mudah menyebar, angin dan ombak tinggi mempercepat penyebaran minyak ke area yang lebih luas.
Kaitannya dengan STCW dan SOLAS
1. SOLAS – Pencegahan bahaya dan perlindungan lingkungan
SOLAS menekankan bahwa kapal harus menjaga integritas struktur dan sistem bahan bakar, serta mengambil langkah untuk mencegah pencemaran, terutama dalam kondisi cuaca buruk.
2. STCW – Kompetensi perwira dalam keadaan darurat dan pencegahan polusi
STCW mengajarkan bahwa awak kapal harus:
-
memahami risiko kebocoran minyak
-
mengawasi kondisi kapal saat cuaca buruk
-
mengetahui prosedur pencegahan pencemaran (pollution prevention)
-
bertindak cepat jika ada potensi tumpahan minyak
“Cuaca buruk meningkatkan risiko polusi minyak dari kapal, sehingga harus dilakukan pemantauan ekstra.”
“Apa saja yang harus disiapkan kapal sebelum mengambil korban (survivors) dari perahu penyelamat atau rescue boat.”
Sebelum korban diangkat ke atas kapal, awak kapal harus melakukan beberapa persiapan agar proses penyelamatan berlangsung aman, cepat, dan teratur.
Persiapan yang Harus Dilakukan (Penjelasan Sederhana)
-
Menurunkan tangga atau alat naik ke kapal
Misalnya pilot ladder, embarkation ladder, jaring penyelamat, atau sling — supaya survivor bisa naik dengan aman. -
Menyiapkan tempat aman di dek
Area di mana survivor akan diterima harus bersih, tidak licin, dan cukup ruang untuk bergerak. -
Menyiapkan crew penyelamat
Awak kapal yang bertugas menerima korban harus memakai alat keselamatan (PPE), seperti lifejacket. -
Menyiapkan peralatan medis dasar
Termasuk selimut, obat-obatan darurat, oksigen kalau perlu, dan tempat duduk atau tandu. -
Mengurangi kecepatan dan membuat kapal stabil
Kapal harus dikendalikan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gelombang yang membahayakan perahu penyelamat. -
Memastikan penerangan (jika malam)
Lampu diberikan ke area penyelamatan tanpa menyilaukan perahu penyelamat. -
Mengatur komunikasi yang jelas
Crew kapal dan perahu penyelamat harus saling berkomunikasi dengan radio atau isyarat tangan.
Kaitannya dengan STCW dan SOLAS
1. SOLAS – Life-saving appliances & rescue operations
SOLAS mengatur bahwa setiap kegiatan penyelamatan harus dilakukan dengan aman, termasuk:
-
menyediakan akses naik ke kapal
-
menyiapkan area penerimaan survivor
-
memastikan peralatan keselamatan siap digunakan
2. STCW – Competence in rescue operations
STCW mengajarkan perwira dan awak kapal untuk:
-
melakukan persiapan sebelum mengambil survivor
-
menjaga keselamatan korban dan awak kapal
-
menggunakan alat bantu penyelamatan dengan benar
-
menilai kondisi cuaca dan stabilitas kapal
“Sebelum survivor dinaikkan ke kapal, semua persiapan harus dilakukan untuk memastikan keselamatan semua pihak.”
“Bagaimana kapal membuat sisi yang terlindung dari angin dan ombak (lee), lalu menurunkan perahu penyelamat dengan aman.”
Sebelum menurunkan rescue boat atau lifeboat, kapal harus diposisikan sedemikian rupa sehingga ada sisi kapal yang lebih tenang karena terlindung dari angin dan gelombang. Di sisi inilah perahu penyelamat diturunkan agar aman.
Bagaimana Cara Memberikan ‘Lee’ (Sisi yang Tenang)
-
Kapal diputar sehingga angin dan ombak datang dari sisi tertentu
Kapal sengaja diarahkan melawan angin atau gelombang, sehingga sisi yang berlawanan menjadi lebih tenang. -
Sisi yang terlindung dipilih untuk operasi penyelamatan
Di sisi ini, gelombang lebih kecil, air lebih tenang, dan perahu lebih mudah dikendalikan. -
Kecepatan kapal dikurangi atau dihentikan
Agar kapal stabil dan tidak menimbulkan gelombang tambahan.
Cara Menurunkan (Launch) Perahu Penyelamat
-
Cek perlengkapan dan awak perahu
Semua memakai lifejacket, imersion suit (jika perlu), dan radio komunikasi. -
Pastikan area peluncuran aman
Tidak ada tali, barang, atau halangan yang bisa mengganggu. -
Gunakan davit atau sistem peluncuran sesuai prosedur
Perahu diturunkan perlahan ke air melalui davit atau mekanisme penurun lifeboat. -
Komunikasi antara tim di kapal dan awak perahu berjalan jelas
Supaya tidak ada salah perintah. -
Lepaskan tali penahan ketika perahu sudah stabil di air
Baru setelah aman, perahu bergerak menjauh dari kapal.
Kaitannya dengan STCW dan SOLAS
1. SOLAS – Life-saving appliances and launching arrangements
SOLAS mengatur bahwa perahu penyelamat harus diturunkan dengan aman, termasuk:
-
memilih sisi kapal yang tenang
-
memastikan kapal dalam posisi aman
-
menjalankan prosedur peluncuran yang benar
2. STCW – Proficiency in survival craft and rescue boats
STCW mengajarkan awak kapal untuk:
-
memahami cara menciptakan ‘lee’
-
menilai kondisi angin dan gelombang
-
menurunkan perahu penyelamat secara aman
-
menjaga komunikasi selama operasi
“Buat sisi kapal yang aman dari angin dan gelombang, lalu turunkan perahu dengan prosedur yang benar.”
“Bagaimana perahu penyelamat harus mendekati kapal yang rusak/karam dan mengambil para korban dengan aman.”
Perahu penyelamat harus bergerak dengan hati-hati saat mendekati bangkai kapal atau kapal yang sedang dalam bahaya, supaya tidak menabrak, tidak terbalik, dan bisa mengambil survivor dengan aman.
Cara Perahu Mendekati Kapal yang Rusak (Wreck)
-
Dekati dari arah yang paling aman dan tenang, biasanya dari sisi yang terlindung angin dan gelombang, supaya perahu stabil.
-
Hindari bagian kapal yang tajam atau berbahaya, misalnya potongan besi, serpihan, atau bagian kapal yang sudah patah.
-
Gerak perlahan dan terkontrol, tujuannya agar perahu tidak terbentur dinding kapal atau terseret arus.
-
Gunakan komunikasi yang jelas, awak perahu dan survivor harus saling memberi isyarat atau menggunakan radio.
-
Jaga jarak aman dari lambung kapal, ombak bisa membuat perahu naik turun dan menabrak bangkai kapal.
Cara Mengambil (Pick Up) Para Survivor
-
Pastikan survivor terlihat dan dalam jarak aman, crew harus selalu mengawasi posisi survivor.
-
Matikan mesin atau gunakan putaran rendah saat sangat dekat, untuk mencegah baling-baling mengenai survivor atau menarik mereka ke belakang perahu.
-
Gunakan tali, pelampung, atau tangan dengan hati-hati, survivor dibantu naik ke perahu dengan alat bantu agar tidak jatuh lagi.
-
Ambil korban satu per satu, mulai dari yang paling lemah, cedera, atau anak-anak terlebih dahulu.
-
Pastikan stabilitas perahu tetap aman, jangan membiarkan semua survivor naik dari satu sisi saja.
-
Beri selimut, lifejacket, dan pertolongan pertama, sesuai pedoman STCW tentang perawatan survivor.
Kaitannya dengan STCW dan SOLAS
1. SOLAS – Rescue operations and safety provisions
SOLAS menekankan:
-
perahu penyelamat harus mendekati kapal yang rusak dengan aman
-
operasi pengambilan survivor harus dilakukan tanpa membahayakan perahu atau awaknya
-
perlengkapan keselamatan harus digunakan sesuai aturan
2. STCW – Training for survival craft and rescue boats
STCW mengajarkan:
-
teknik mendekati wreck dengan aman
-
cara menolong survivor di air maupun di bangkai kapal
-
prosedur komunikasi, penilaian cuaca, dan penggunaan alat bantu
-
menjaga keselamatan dan stabilitas perahu selama operasi penyelamatan
“Perahu penyelamat harus mendekati bangkai kapal dengan aman, pelan, dan terkontrol, lalu mengangkat survivor tanpa menambah risiko baru.”
“Cara-cara untuk mengangkat kembali perahu penyelamat (rescue boat) dan membawa para survivor ke kapal dengan aman.”
Setelah operasi penyelamatan selesai, kapal harus mempunyai cara yang aman untuk:
-
Mengambil (recover) perahu penyelamat kembali ke kapal, dan
-
Mengangkat para survivor ke atas kapal dengan aman.
1. Cara Recovery Perahu Penyelamat (Boat Recovery)
a. Mendekati kapal dengan hati-hati, perahu penyelamat kembali ke sisi kapal yang tenang (lee side) agar tidak terombang-ambing.
b. Komunikasi jelas antara kapal dan perahu, gunakan radio atau isyarat tangan agar semua perintah dipahami.
c. Kaitkan tali penarik atau pengait, tali dari kapal dipasang ke perahu untuk menjaga posisinya.
d. Gunakan sistem davit atau crane untuk mengangkat perahu, perahu dihubungkan dengan hook davit, lalu diangkat perlahan sesuai prosedur SOLAS.
e. Pastikan semua orang keluar dari perahu sebelum diangkat (jika aman), untuk mencegah cedera akibat perahu bergerak atau bergoyang.
f. Kunci dan amankan perahu setelah naik ke kapal, agar tidak bergerak atau jatuh kembali ke laut.
2. Cara Recovery Survivor (Mengangkat Korban ke Kapal)
a. Gunakan akses naik yang aman
pilot ladder
-
embarkation ladder
-
jaring penyelamat
-
sling, stretcher, atau basket untuk korban yang lemah atau cedera
b. Jagai korban saat mendekati kapal, awak kapal harus siap menangkap atau mengamankan survivor dari gelombang.
c. Angkat survivor satu per satu, mulai dari yang paling lemah, anak-anak, atau korban yang cedera.
d. Mesin perahu harus pada putaran rendah atau dimatikan, untuk mencegah baling-baling melukai survivor.
e. Gunakan tali atau pelampung bantuan, korban yang berada di laut dibantu menggunakan tali, lifebuoy, atau jaring.
f. Berikan pertolongan pertama setelah berada di kapal, selimut, lifejacket, minuman hangat, dan pemeriksaan dasar.
Ini sesuai kewajiban perawatan survivor dalam STCW.
Kaitannya dengan STCW & SOLAS
SOLAS mengatur:
-
peralatan peluncuran dan pengangkatan perahu harus dapat digunakan dengan aman
-
prosedur mengambil survivor harus melindungi korban dan awak
-
sistem davit harus mampu mengangkat perahu dalam kondisi laut yang memadai
STCW mengatur latihan dan kompetensi awak kapal, termasuk:
-
teknik recovery perahu penyelamat
-
teknik mengangkat survivor dari air atau perahu
-
perawatan survivor setelah evakuasi
-
komunikasi dan koordinasi tim penyelamat
“Menjelaskan cara-cara penyelamatan yang dapat digunakan ketika kondisi laut terlalu berbahaya untuk menurunkan perahu penyelamat.”
Jika ombak sangat tinggi, angin sangat kencang, atau situasi terlalu berbahaya sehingga perahu penyelamat tidak bisa digunakan, maka ada metode alternatif untuk tetap menyelamatkan orang.
Metode Penyelamatan Saat Laut Terlalu Berbahaya untuk Menurunkan Boat
1. Menggunakan Tali Penyelamat (Line-throwing apparatus)
Kapal dapat menembakkan tali khusus ke arah kapal yang rusak atau ke survivor.
Dengan tali tersebut:
-
survivor bisa ditarik ke kapal
-
atau digunakan untuk memasang sling, kursi penyelamat, atau jaring
STCW mewajibkan awak kapal memahami penggunaan alat ini.
2. Menggunakan Jaring atau Sling dari Kapal
Kapal bisa menurunkan:
-
jaring penyelamat,
-
rescue sling,
-
atau stretcher (keranjang penyelamat)
Survivor diangkat langsung ke kapal tanpa perlu perahu.
Metode ini banyak direkomendasikan oleh SOLAS saat perahu tidak aman digunakan.
3. Menggunakan Pilot Ladder atau Embarkation Ladder
Jika korban masih berada di bangkai kapal atau objek yang mengapung:
-
kapal dapat mendekat dari sisi yang aman
-
survivor memanjat tangga yang diturunkan
Dua orang awak kapal biasanya membantu dari atas.
4. Menggunakan Helikopter Penyelamat
Jika tersedia dan kondisi mengizinkan:
-
helikopter menurunkan rescuer
-
survivor diikat ke sling atau basket
-
kemudian diangkat ke udara
Ini metode yang sangat efektif ketika perahu tidak mungkin dipakai.
SOLAS mengakui helikopter sebagai salah satu metode alternatif.
5. Menggunakan Lifebuoy dengan Tali
Jika survivor berada di air dan cukup dekat:
-
kapal melempar lifebuoy yang terikat tali
-
survivor memegang lifebuoy dan ditarik ke kapal
Metode ini sederhana tetapi efektif pada kondisi ekstrem.
6. Menggunakan Raft Inflatable (Jika Aman Dilemparkan)
Jika perahu tidak bisa diturunkan tetapi pelampung rakit bisa:
-
rakit kembung (inflatable raft) dapat dilempar ke laut
-
survivor dapat masuk ke rakit
-
lalu rakit ditarik ke kapal
Tidak perlu menurunkan davit sehingga lebih aman.
Kaitannya dengan STCW dan SOLAS
SOLAS menekankan bahwa:
-
Kapal harus tetap mampu melakukan penyelamatan meskipun perahu tidak dapat digunakan.
-
Alat seperti line-throwing, jaring, ladders, dan helikopter dapat digunakan sebagai alternatif.
STCW mengatur bahwa awak kapal harus:
-
memahami teknik penyelamatan alternatif
-
menggunakan sling, tali, jaring, dan alat darurat lainnya
-
memastikan korban tetap aman selama proses penarikan atau pengangkatan
-
merawat survivor setelah penyelamatan
- International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW), 1978, as amended (ISBN 978-92-801-1528-4)
- International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS) (IMO Sales No. IE110E) SOLAS – Consolidated Edition, 2009 (ISBN 9789280115055)
Comments
Post a Comment