Skip to main content

Penyelamatan orang dari kapal yang dalam keadaan bahaya atau dari kapal yang karam


Lebih baik menunggu sampai siang hari jika tidak ada bahaya langsung

Jika kapal atau orang di laut tidak sedang dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa secara langsung, maka penyelamatan sebaiknya menunggu sampai hari terang (siang hari).
Hal ini dilakukan agar situasi lebih terlihat jelas, risiko lebih kecil, dan operasi penyelamatan dapat berjalan lebih aman.

Mengapa harus menunggu sampai siang hari?

  1. Cahaya lebih baik → visibilitas tinggi
    Pada siang hari, tim penyelamat bisa melihat kondisi kapal, ombak, arus, dan survivor dengan jelas.

  2. Mengurangi risiko kecelakaan
    Pada malam hari, bahaya seperti kapal terhempas ombak, perahu penyelamat terbalik, atau salah manuver lebih besar.

  3. Memudahkan komunikasi & koordinasi
    Perintah, isyarat tangan, dan gerakan lebih mudah dilihat.

  4. Lebih aman bagi penyelamat dan korban
    Operasi SAR (Search and Rescue) di malam hari lebih berbahaya dan memakan waktu lebih lama.

Kaitannya dengan STCW dan SOLAS

Walaupun STCW dan SOLAS tidak selalu menyebutkan kalimat persis “wait for daylight”, kedua konvensi menekankan prinsip:

1. SOLAS – Keselamatan jiwa adalah prioritas

SOLAS mengatur bahwa setiap operasi di laut harus dilakukan dengan risiko paling rendah, termasuk dalam pengoperasian lifeboat, rescue boat, dan penyelamatan korban.

Jika tidak ada bahaya langsung, menunggu kondisi paling aman (siang hari) adalah tindakan yang sesuai prinsip SOLAS.

2. STCW – Kompetensi dalam operasi penyelamatan

STCW mengatur bahwa awak kapal harus memahami:

  • cara penyelamatan di laut

  • cara menilai risiko

  • kapan harus meluncurkan sekoci

  • kapan menunda operasi untuk keselamatan

Dalam latihan dan modul penyelamatan STCW, diajarkan bahwa operasi penyelamatan harus dilakukan dalam kondisi paling aman, termasuk menunda hingga daylight bila keadaan tidak mendesak.

Tim penyelamat hanya akan menurunkan dan menggunakan rescue boat atau motor lifeboat kalau situasi aman, misalnya ombak tidak terlalu tinggi, angin tidak terlalu kencang, dan kapal tidak berada dalam posisi berbahaya.

Mengapa harus melihat kondisi dulu?

  1. Keselamatan penyelamat dan korban, jika cuaca buruk atau laut terlalu kasar, sekoci bisa terbalik, rusak, atau sulit dikendalikan.

  2. Risiko kecelakaan lebih besar pada laut buruk, dalam kondisi ekstrem, lebih aman menunggu atau menggunakan metode penyelamatan lain (seperti liferaft, tali, helicopter rescue, atau menunggu daylight).

  3. Perintah keselamatan, SOLAS menekankan bahwa penggunaan perahu penyelamat harus dilakukan dengan risiko minimum bagi semua orang yang terlibat.

  4. Kewajiban kompetensi dalam STCW mengajarkan bahwa awak kapal harus menilai kondisi sebelum meluncurkan boat, termasuk:

    • keadaan cuaca

    • tinggi gelombang

    • arah angin

    • posisi kapal

    • bahaya di sekitar (api, minyak, reruntuhan kapal, dll.)

Hubungan dengan STCW dan SOLAS

1. SOLAS – Life-saving appliances & launching arrangements

SOLAS mengatur bahwa peralatan penyelamat jiwa seperti lifeboat dan rescue boat harus digunakan dengan prosedur aman, dan peluncurannya hanya dilakukan bila kondisi memungkinkan untuk menghindari bahaya bagi pelaut dan korban.

2. STCW – Proficiency in survival craft & rescue boats

STCW mengajarkan awak kapal untuk:

  • memahami kapan sekoci dapat diluncurkan

  • memastikan kondisi aman

  • memilih metode penyelamatan yang paling sesuai

  • tidak memaksakan penggunaan rescue boat jika gelombang atau angin terlalu kuat

Ini sesuai dengan prinsip STCW: “laksanakan operasi penyelamatan dengan keselamatan maksimal.”

“Peralatan yang tidak diperlukan harus dikeluarkan dari perahu penyelamat dan diganti dengan perlengkapan keselamatan seperti lifejacket, lifebuoy, immersion suit, selimut, dan radio VHF portabel.”

Sebelum melakukan penyelamatan, perahu penyelamat harus dibuat ringan, rapi, dan hanya membawa perlengkapan yang benar-benar penting untuk menyelamatkan orang.
Semua barang yang tidak penting akan mengganggu ruang, menambah beban, dan menghambat proses evakuasi.

“Dalam cuaca buruk, kedua kapal dapat menyebarkan minyak ke laut jika tangki, pipa, atau badan kapal mereka rusak akibat gelombang dan guncangan.”

Saat laut bergelombang tinggi dan kapal dihantam angin kencang, bagian kapal seperti pipa bahan bakar, tangki minyak, atau sambungan bisa terganggu atau rusak. 

Jika ada kebocoran, minyak dari salah satu atau kedua kapal bisa terhempas dan tersebar luas oleh ombak.

Mengapa kapal bisa menyebarkan minyak saat cuaca buruk?

  1. Guncangan kuat dari gelombang, ombak besar dapat membuat kapal terbentur berulang kali sehingga pipa dan tangki bisa retak atau bocor.

  2. Pergerakan kapal yang tidak stabil, kapal yang miring, terguncang, atau dihantam ombak dapat menyebabkan minyak tumpah dari sistem bahan bakar atau ruang mesin.

  3. Kerusakan struktur kapal, cuaca ekstrem bisa menyebabkan kerusakan pada hull (badan kapal) sehingga minyak keluar ke laut.

  4. Minyak mudah menyebar, angin dan ombak tinggi mempercepat penyebaran minyak ke area yang lebih luas.

Kaitannya dengan STCW dan SOLAS

1. SOLAS – Pencegahan bahaya dan perlindungan lingkungan

SOLAS menekankan bahwa kapal harus menjaga integritas struktur dan sistem bahan bakar, serta mengambil langkah untuk mencegah pencemaran, terutama dalam kondisi cuaca buruk.

2. STCW – Kompetensi perwira dalam keadaan darurat dan pencegahan polusi

STCW mengajarkan bahwa awak kapal harus:

  • memahami risiko kebocoran minyak

  • mengawasi kondisi kapal saat cuaca buruk

  • mengetahui prosedur pencegahan pencemaran (pollution prevention)

  • bertindak cepat jika ada potensi tumpahan minyak

“Cuaca buruk meningkatkan risiko polusi minyak dari kapal, sehingga harus dilakukan pemantauan ekstra.”

“Apa saja yang harus disiapkan kapal sebelum mengambil korban (survivors) dari perahu penyelamat atau rescue boat.”

Sebelum korban diangkat ke atas kapal, awak kapal harus melakukan beberapa persiapan agar proses penyelamatan berlangsung aman, cepat, dan teratur.

Persiapan yang Harus Dilakukan (Penjelasan Sederhana)

  1. Menurunkan tangga atau alat naik ke kapal
    Misalnya pilot ladder, embarkation ladder, jaring penyelamat, atau sling — supaya survivor bisa naik dengan aman.

  2. Menyiapkan tempat aman di dek
    Area di mana survivor akan diterima harus bersih, tidak licin, dan cukup ruang untuk bergerak.

  3. Menyiapkan crew penyelamat
    Awak kapal yang bertugas menerima korban harus memakai alat keselamatan (PPE), seperti lifejacket.

  4. Menyiapkan peralatan medis dasar
    Termasuk selimut, obat-obatan darurat, oksigen kalau perlu, dan tempat duduk atau tandu.

  5. Mengurangi kecepatan dan membuat kapal stabil
    Kapal harus dikendalikan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gelombang yang membahayakan perahu penyelamat.

  6. Memastikan penerangan (jika malam)
    Lampu diberikan ke area penyelamatan tanpa menyilaukan perahu penyelamat.

  7. Mengatur komunikasi yang jelas
    Crew kapal dan perahu penyelamat harus saling berkomunikasi dengan radio atau isyarat tangan.

Kaitannya dengan STCW dan SOLAS

1. SOLAS – Life-saving appliances & rescue operations

SOLAS mengatur bahwa setiap kegiatan penyelamatan harus dilakukan dengan aman, termasuk:

  • menyediakan akses naik ke kapal

  • menyiapkan area penerimaan survivor

  • memastikan peralatan keselamatan siap digunakan

2. STCW – Competence in rescue operations

STCW mengajarkan perwira dan awak kapal untuk:

  • melakukan persiapan sebelum mengambil survivor

  • menjaga keselamatan korban dan awak kapal

  • menggunakan alat bantu penyelamatan dengan benar

  • menilai kondisi cuaca dan stabilitas kapal

“Sebelum survivor dinaikkan ke kapal, semua persiapan harus dilakukan untuk memastikan keselamatan semua pihak.”

“Bagaimana kapal membuat sisi yang terlindung dari angin dan ombak (lee), lalu menurunkan perahu penyelamat dengan aman.”

Sebelum menurunkan rescue boat atau lifeboat, kapal harus diposisikan sedemikian rupa sehingga ada sisi kapal yang lebih tenang karena terlindung dari angin dan gelombang. Di sisi inilah perahu penyelamat diturunkan agar aman.

Bagaimana Cara Memberikan ‘Lee’ (Sisi yang Tenang)

  1. Kapal diputar sehingga angin dan ombak datang dari sisi tertentu
    Kapal sengaja diarahkan melawan angin atau gelombang, sehingga sisi yang berlawanan menjadi lebih tenang.

  2. Sisi yang terlindung dipilih untuk operasi penyelamatan
    Di sisi ini, gelombang lebih kecil, air lebih tenang, dan perahu lebih mudah dikendalikan.

  3. Kecepatan kapal dikurangi atau dihentikan
    Agar kapal stabil dan tidak menimbulkan gelombang tambahan.

Cara Menurunkan (Launch) Perahu Penyelamat

  1. Cek perlengkapan dan awak perahu
    Semua memakai lifejacket, imersion suit (jika perlu), dan radio komunikasi.

  2. Pastikan area peluncuran aman
    Tidak ada tali, barang, atau halangan yang bisa mengganggu.

  3. Gunakan davit atau sistem peluncuran sesuai prosedur
    Perahu diturunkan perlahan ke air melalui davit atau mekanisme penurun lifeboat.

  4. Komunikasi antara tim di kapal dan awak perahu berjalan jelas
    Supaya tidak ada salah perintah.

  5. Lepaskan tali penahan ketika perahu sudah stabil di air
    Baru setelah aman, perahu bergerak menjauh dari kapal.

Kaitannya dengan STCW dan SOLAS

1. SOLAS – Life-saving appliances and launching arrangements

SOLAS mengatur bahwa perahu penyelamat harus diturunkan dengan aman, termasuk:

  • memilih sisi kapal yang tenang

  • memastikan kapal dalam posisi aman

  • menjalankan prosedur peluncuran yang benar

2. STCW – Proficiency in survival craft and rescue boats

STCW mengajarkan awak kapal untuk:

  • memahami cara menciptakan ‘lee’

  • menilai kondisi angin dan gelombang

  • menurunkan perahu penyelamat secara aman

  • menjaga komunikasi selama operasi

“Buat sisi kapal yang aman dari angin dan gelombang, lalu turunkan perahu dengan prosedur yang benar.”

“Bagaimana perahu penyelamat harus mendekati kapal yang rusak/karam dan mengambil para korban dengan aman.”

Perahu penyelamat harus bergerak dengan hati-hati saat mendekati bangkai kapal atau kapal yang sedang dalam bahaya, supaya tidak menabrak, tidak terbalik, dan bisa mengambil survivor dengan aman.

Cara Perahu Mendekati Kapal yang Rusak (Wreck)

  1. Dekati dari arah yang paling aman dan tenang, biasanya dari sisi yang terlindung angin dan gelombang, supaya perahu stabil.

  2. Hindari bagian kapal yang tajam atau berbahaya, misalnya potongan besi, serpihan, atau bagian kapal yang sudah patah.

  3. Gerak perlahan dan terkontrol, tujuannya agar perahu tidak terbentur dinding kapal atau terseret arus.

  4. Gunakan komunikasi yang jelas, awak perahu dan survivor harus saling memberi isyarat atau menggunakan radio.

  5. Jaga jarak aman dari lambung kapal, ombak bisa membuat perahu naik turun dan menabrak bangkai kapal.

Cara Mengambil (Pick Up) Para Survivor

  1. Pastikan survivor terlihat dan dalam jarak aman, crew harus selalu mengawasi posisi survivor.

  2. Matikan mesin atau gunakan putaran rendah saat sangat dekat, untuk mencegah baling-baling mengenai survivor atau menarik mereka ke belakang perahu.

  3. Gunakan tali, pelampung, atau tangan dengan hati-hati, survivor dibantu naik ke perahu dengan alat bantu agar tidak jatuh lagi.

  4. Ambil korban satu per satu, mulai dari yang paling lemah, cedera, atau anak-anak terlebih dahulu.

  5. Pastikan stabilitas perahu tetap aman, jangan membiarkan semua survivor naik dari satu sisi saja.

  6. Beri selimut, lifejacket, dan pertolongan pertama, sesuai pedoman STCW tentang perawatan survivor.

Kaitannya dengan STCW dan SOLAS

1. SOLAS – Rescue operations and safety provisions

SOLAS menekankan:

  • perahu penyelamat harus mendekati kapal yang rusak dengan aman

  • operasi pengambilan survivor harus dilakukan tanpa membahayakan perahu atau awaknya

  • perlengkapan keselamatan harus digunakan sesuai aturan

2. STCW – Training for survival craft and rescue boats

STCW mengajarkan:

  • teknik mendekati wreck dengan aman

  • cara menolong survivor di air maupun di bangkai kapal

  • prosedur komunikasi, penilaian cuaca, dan penggunaan alat bantu

  • menjaga keselamatan dan stabilitas perahu selama operasi penyelamatan

“Perahu penyelamat harus mendekati bangkai kapal dengan aman, pelan, dan terkontrol, lalu mengangkat survivor tanpa menambah risiko baru.”

“Cara-cara untuk mengangkat kembali perahu penyelamat (rescue boat) dan membawa para survivor ke kapal dengan aman.”

Setelah operasi penyelamatan selesai, kapal harus mempunyai cara yang aman untuk:

  1. Mengambil (recover) perahu penyelamat kembali ke kapal, dan

  2. Mengangkat para survivor ke atas kapal dengan aman.

1. Cara Recovery Perahu Penyelamat (Boat Recovery)

a. Mendekati kapal dengan hati-hati, perahu penyelamat kembali ke sisi kapal yang tenang (lee side) agar tidak terombang-ambing.

b. Komunikasi jelas antara kapal dan perahu, gunakan radio atau isyarat tangan agar semua perintah dipahami.

c. Kaitkan tali penarik atau pengait, tali dari kapal dipasang ke perahu untuk menjaga posisinya.

d. Gunakan sistem davit atau crane untuk mengangkat perahu, perahu dihubungkan dengan hook davit, lalu diangkat perlahan sesuai prosedur SOLAS.

e. Pastikan semua orang keluar dari perahu sebelum diangkat (jika aman), untuk mencegah cedera akibat perahu bergerak atau bergoyang.

f. Kunci dan amankan perahu setelah naik ke kapal, agar tidak bergerak atau jatuh kembali ke laut.

2. Cara Recovery Survivor (Mengangkat Korban ke Kapal)

a. Gunakan akses naik yang aman

  • pilot ladder

  • embarkation ladder

  • jaring penyelamat

  • sling, stretcher, atau basket untuk korban yang lemah atau cedera

b. Jagai korban saat mendekati kapal, awak kapal harus siap menangkap atau mengamankan survivor dari gelombang.

c. Angkat survivor satu per satu, mulai dari yang paling lemah, anak-anak, atau korban yang cedera.

d. Mesin perahu harus pada putaran rendah atau dimatikan, untuk mencegah baling-baling melukai survivor.

e. Gunakan tali atau pelampung bantuan, korban yang berada di laut dibantu menggunakan tali, lifebuoy, atau jaring.

f. Berikan pertolongan pertama setelah berada di kapal, selimut, lifejacket, minuman hangat, dan pemeriksaan dasar.

Ini sesuai kewajiban perawatan survivor dalam STCW.

Kaitannya dengan STCW & SOLAS

SOLAS mengatur:

  • peralatan peluncuran dan pengangkatan perahu harus dapat digunakan dengan aman

  • prosedur mengambil survivor harus melindungi korban dan awak

  • sistem davit harus mampu mengangkat perahu dalam kondisi laut yang memadai

STCW mengatur latihan dan kompetensi awak kapal, termasuk:

  • teknik recovery perahu penyelamat

  • teknik mengangkat survivor dari air atau perahu

  • perawatan survivor setelah evakuasi

  • komunikasi dan koordinasi tim penyelamat

“Menjelaskan cara-cara penyelamatan yang dapat digunakan ketika kondisi laut terlalu berbahaya untuk menurunkan perahu penyelamat.”

Jika ombak sangat tinggi, angin sangat kencang, atau situasi terlalu berbahaya sehingga perahu penyelamat tidak bisa digunakan, maka ada metode alternatif untuk tetap menyelamatkan orang.

Metode Penyelamatan Saat Laut Terlalu Berbahaya untuk Menurunkan Boat

1. Menggunakan Tali Penyelamat (Line-throwing apparatus)

Kapal dapat menembakkan tali khusus ke arah kapal yang rusak atau ke survivor.
Dengan tali tersebut:

  • survivor bisa ditarik ke kapal

  • atau digunakan untuk memasang sling, kursi penyelamat, atau jaring

STCW mewajibkan awak kapal memahami penggunaan alat ini.

2. Menggunakan Jaring atau Sling dari Kapal

Kapal bisa menurunkan:

  • jaring penyelamat,

  • rescue sling,

  • atau stretcher (keranjang penyelamat)

Survivor diangkat langsung ke kapal tanpa perlu perahu.

Metode ini banyak direkomendasikan oleh SOLAS saat perahu tidak aman digunakan.

3. Menggunakan Pilot Ladder atau Embarkation Ladder

Jika korban masih berada di bangkai kapal atau objek yang mengapung:

  • kapal dapat mendekat dari sisi yang aman

  • survivor memanjat tangga yang diturunkan

Dua orang awak kapal biasanya membantu dari atas.

4. Menggunakan Helikopter Penyelamat

Jika tersedia dan kondisi mengizinkan:

  • helikopter menurunkan rescuer

  • survivor diikat ke sling atau basket

  • kemudian diangkat ke udara

Ini metode yang sangat efektif ketika perahu tidak mungkin dipakai.

SOLAS mengakui helikopter sebagai salah satu metode alternatif.

5. Menggunakan Lifebuoy dengan Tali

Jika survivor berada di air dan cukup dekat:

  • kapal melempar lifebuoy yang terikat tali

  • survivor memegang lifebuoy dan ditarik ke kapal

Metode ini sederhana tetapi efektif pada kondisi ekstrem.

6. Menggunakan Raft Inflatable (Jika Aman Dilemparkan)

Jika perahu tidak bisa diturunkan tetapi pelampung rakit bisa:

  • rakit kembung (inflatable raft) dapat dilempar ke laut

  • survivor dapat masuk ke rakit

  • lalu rakit ditarik ke kapal

Tidak perlu menurunkan davit sehingga lebih aman.

Kaitannya dengan STCW dan SOLAS

SOLAS menekankan bahwa:

  • Kapal harus tetap mampu melakukan penyelamatan meskipun perahu tidak dapat digunakan.

  • Alat seperti line-throwing, jaring, ladders, dan helikopter dapat digunakan sebagai alternatif.

STCW mengatur bahwa awak kapal harus:

  • memahami teknik penyelamatan alternatif

  • menggunakan sling, tali, jaring, dan alat darurat lainnya

  • memastikan korban tetap aman selama proses penarikan atau pengangkatan

  • merawat survivor setelah penyelamatan

Referensi; 
  • International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW), 1978, as amended (ISBN 978-92-801-1528-4) 
  • International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS) (IMO Sales No. IE110E) SOLAS – Consolidated Edition, 2009 (ISBN 9789280115055)

Comments

Popular posts from this blog

Konstruksi dan Stabilitas Kapal

  Bentuk dan Ukuran Kapal  1. Hull Structure (Struktur Lambung) pada General Cargo Ship Hull structure adalah kerangka fisik kapal yang memberikan bentuk, kekuatan, dan kemampuan menahan beban baik statis maupun dinamis. Struktur ini dirancang agar kapal aman saat memuat barang dan menghadapi tekanan laut. Komponen utama hull structure pada general cargo ship: Keel (Lunas) Bagian utama di dasar kapal, membentang dari haluan ke buritan. Berfungsi sebagai tulang punggung kapal, menopang seluruh beban kapal dan muatan. Frames (Rangka) Rangka melintang yang menempel pada lunas. Memberikan bentuk lambung dan kekakuan terhadap tekanan air. Plating (Pelat Lambung) Pelat baja yang menutup rangka membentuk dinding dan dasar lambung. Menahan air laut agar tidak masuk dan menahan muatan internal. Bulkheads (Sekat) Sekat vertikal membagi kapal menjadi beberapa kompartemen. Fungsinya: mencegah penyebaran air jika terjadi kebocoran, memisahkan ruang muat, dan menambah kekuatan struktural. D...

Buoyancy

  Buoyancy (Daya Apung) Adalah gaya ke atas yang diberikan oleh air terhadap kapal yang terapung , yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian kapal yang terendam . Artinya, ketika kapal dimasukkan ke dalam air, kapal akan menekan air ke bawah dan menggantikan sejumlah volume air. Air yang tergantikan itu akan memberikan gaya ke atas pada kapal. Jika gaya ke atas (buoyancy) sama besar dengan berat kapal, maka kapal akan terapung seimbang di permukaan air. Prinsip Dasar (Hukum Archimedes) “Suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut.” Secara matematis: Fb = ρ × g × V Keterangan: F b F_b ​ = gaya apung (N) ρ = kerapatan air (kg/m³) g = percepatan gravitasi (9.81 m/s²) V = volume air yang dipindahkan (m³) Makna Operasional bagi Perwira Kapal Dalam konteks STCW Code Table A-II/1 , pemahaman tentang buoyancy ...

Pemeriksaan Tangki Ballast (Ballast Tanks Inspection)

  Periode / Interval Pemeriksaan Tangki Ballast 1. Berdasarkan ISGOTT (ICF, OCIMF & IAPH – International Safety Guide for Oil Tankers and Terminals, Edisi ke-5, 2006) ISGOTT menekankan bahwa pemeriksaan tangki ballast harus dilakukan secara berkala dan terencana , baik oleh awak kapal maupun surveyor pihak ketiga (kelas atau otoritas). Interval pemeriksaan dibedakan sebagai berikut: a. Pemeriksaan Rutin (Routine Inspection) Dilakukan oleh Chief Officer / Petugas kapal secara visual. Frekuensi: Setiap kali tangki dibersihkan atau dikosongkan sepenuhnya , misalnya selama docking atau perawatan rutin. Minimal sekali setiap 6 bulan untuk kapal tanker aktif. Tujuan: memastikan kondisi pelapis (coating), anoda, dan struktur tetap baik serta bebas dari kebocoran. b. Pemeriksaan Tahunan (Annual Inspection) Dilakukan oleh perwira senior kapal bersama surveyor kelas atau perusahaan . Frekuensi: 1 kali dalam setiap tahun kalender (± 12 bulan). Dapat dilakuka...

Perhitungan trim dan draft dengan menggunakan tabel trim

  Tabel trim (Trim Tables) adalah tabel yang menunjukkan bagaimana draft di tengah kapal (mean draught) dan draft di haluan atau buritan akan berubah ketika terjadi perubahan trim akibat pemindahan muatan atau perubahan berat kapal. Tujuan penggunaannya: Untuk menentukan draft di haluan dan buritan ketika kapal memiliki trim tertentu. Untuk menghitung perubahan trim akibat pemindahan beban ke depan atau ke belakang. Untuk memperkirakan posisi garis air kapal dalam berbagai kondisi pemuatan. Dengan demikian, kemampuan melakukan perhitungan trim dan draft menggunakan tabel trim termasuk dalam kompetensi perwira navigasi tingkat operasional (Operational Level) sesuai STCW Code Table A-II/1 — yaitu dalam area kompetensi “Monitor the loading, stowage, securing and unloading of cargoes and their care during the voyage.” Trim adalah selisih antara draft buritan (draught aft) dan draft haluan (draught forward) Trim menunjukkan kemiringan kapal ke depan atau ke belak...

Container Cargo

Arrangement of a Container Ship (Tata Letak Kapal Kontainer) Cargo hold (under deck / ruang muat bawah geladak): Kontainer disusun secara vertikal di dalam palka (bay dalam palka). Biasanya dilengkapi dengan cell guide (rangka baja) untuk menahan kontainer agar tetap lurus dan stabil. On deck (di atas geladak): Kontainer disusun di atas hatch cover menggunakan twist-lock, lashing bar, dan turnbuckle untuk mengamankan. Tidak ada cell guide, sehingga keamanan sangat bergantung pada lashing. Bay system: Kapal kontainer dibagi menjadi beberapa bay (deretan kontainer dari depan ke belakang). Bay ganjil (01, 03, 05…) = 40 feet position. Bay genap (02, 04, 06…) = 20 feet position. Row system: Mengacu ke arah melintang kapal (port – tengah – starboard). Nomor genap = sisi kanan (starboard). Nomor ganjil = sisi kiri (port). Nomor terbesar biasanya di sisi terluar. Tier system: Mengacu ke susunan vertikal (bawah ke atas). Tier nomor rendah = paling b...

Tindakan yang harus diambil setelah kapal kandas (Actions to be taken following grounding)

Tindakan awal yang harus dilakukan oleh kapal yang mengalami kandas (grounding) di dasar berlumpur (silt landing) . 1. Pengertian “Silt Landing” Silt landing berarti kondisi di mana kapal kandas di dasar berlumpur lembut (silt atau mud) . Jenis dasar laut ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan struktural langsung , tetapi dapat menahan kapal dengan efek hisap (suction effect) jika tidak segera ditangani. 2. Tindakan yang Harus Dilakukan Menurut Danton (1996) dan ICS/OCIMF ( Peril at Sea and Salvage ), serta ketentuan SOLAS dan STCW , langkah-langkah berikut harus segera diambil oleh Nakhoda dan awak kapal saat kapal mengalami silt landing : a. Mesin Harus Dihentikan (Engines Should Be Stopped) Setelah kapal kandas, mesin utama segera dihentikan untuk mencegah kerusakan pada baling-baling (propeller) dan kemudi (rudder) . Mengoperasikan mesin saat kandas bisa memperdalam kapal ke dalam lumpur (meningkatkan efek sedotan) atau menyebabkan kerusakan mekanis akibat bent...