Arrangement of a Container Ship (Tata Letak Kapal Kontainer)
- Cargo
hold (under deck / ruang muat bawah geladak):
Kontainer disusun secara vertikal di dalam palka (bay dalam palka). Biasanya dilengkapi dengan cell guide (rangka baja) untuk menahan kontainer agar tetap lurus dan stabil. - On
deck (di atas geladak):
Kontainer disusun di atas hatch cover menggunakan twist-lock, lashing bar, dan turnbuckle untuk mengamankan. Tidak ada cell guide, sehingga keamanan sangat bergantung pada lashing. - Bay
system:
Kapal kontainer dibagi menjadi beberapa bay (deretan kontainer dari depan ke belakang). - Bay
ganjil (01, 03, 05…) = 40 feet position.
- Bay
genap (02, 04, 06…) = 20 feet position.
- Row
system:
Mengacu ke arah melintang kapal (port – tengah – starboard). - Nomor genap =
sisi kanan (starboard).
- Nomor ganjil =
sisi kiri (port).
- Nomor terbesar biasanya
di sisi terluar.
- Tier
system:
Mengacu ke susunan vertikal (bawah ke atas). - Tier
nomor rendah = paling bawah di dalam palka.
- Tier
nomor semakin besar = semakin tinggi ke atas.
- Biasanya
dimulai dari 02, 04, 06 di bawah deck, lalu 82,
84, 86 di atas deck.
Container Position Designation (Penentuan Posisi
Kontainer)
Satu kontainer di kapal ditentukan dengan kode tiga
angka:
Bay – Row – Tier
- Bay =
posisi ke depan–belakang.
- Row =
posisi ke kiri–kanan.
- Tier =
posisi ke bawah–atas.
📌 Contoh:
Kontainer dengan kode 220456 berarti:
- Bay
22 → berada di deretan bay no. 22 (arah depan–belakang kapal).
- Row
04 → berada di sisi starboard (kanan kapal), agak ke tengah.
- Tier
56 → berada pada tumpukan vertikal nomor 56 (tinggi ke atas).
Sequence of Operations during Discharging and Loading at a Terminal
1. Pre-Arrival Preparation
- Kapal
kirim pre-arrival information ke terminal (draught, cargo
plan, berthing requirement).
- Terminal
siapkan berth, crane, tenaga kerja, serta peralatan pendukung.
2. Berthing & Safety Check
- Kapal
sandar sesuai instruksi terminal.
- Dilakukan Ship/Shore
Safety Checklist dan toolbox meeting antara
Loading Master, Jetty Master, dan perwakilan kapal.
3. Discharging Operations (Unloading)
- Dimulai
dengan kontainer atau kargo dari deck lalu berlanjut
ke hold.
- Container
gantry crane (atau shore crane) mengangkat kargo, dipindahkan ke yard
area.
- Setiap
unit dicatat dalam Terminal Operating System (TOS).
- Operasi
berlangsung sesuai urutan bay-row-tier agar stabilitas kapal tetap
terjaga.
4. Loading Operations (Backloading)
- Setelah discharging selesai
atau bersamaan (jika operasi dual cycle), kontainer muatan
baru dinaikkan.
- Urutan
loading mengikuti stowage plan yang disetujui oleh kapal.
- Kontainer
berat ditempatkan di bawah, muatan berbahaya di lokasi khusus sesuai IMDG
Code, dan kontainer tujuan awal ditaruh paling atas/dekat keluar.
5. Finalizing Operations
- Setelah
semua kargo selesai dimuat/dibongkar:
- Kapal
dan terminal lakukan tally & documentation check (cargo
manifest, EDI update).
- Semua
lashing dicek ulang oleh crew dan terminal staff.
- Clearance
diberikan oleh terminal/otoritas pelabuhan.
6. Unberthing & Departure
- Kapal
lepas tali, keluar dari dermaga setelah semua dokumen, keselamatan, dan
stabilitas terjamin.
Factors in Planning a Container Stow (Faktor Perencanaan Penataan Kontainer)
Dalam menyusun container stowage plan, perwira
kapal dan planner harus memperhatikan keseimbangan kapal. Tiga faktor utama
adalah stability, trim, dan list:
1. Stability (Stabilitas)
- Pengaruh
muatan: Kontainer berat yang ditempatkan terlalu tinggi (on deck)
menaikkan titik berat kapal (KG) → GM mengecil → kapal jadi tender (mudah
oleng).
- Prinsip
umum:
- Kontainer
berat ditempatkan di bawah (under deck) agar stabilitas memadai.
- Kontainer
ringan ditempatkan di atas.
- Tujuan: Menjaga GM
positif dan kurva stabilitas dalam batas IMO.
2. Trim (Kemiringan longitudinal – depan/belakang)
- Pengaruh
muatan: Distribusi kontainer di bagian depan (fore) dan belakang
(aft) memengaruhi trim.
- Prinsip
umum:
- Trim
yang terlalu besar akan menyulitkan manuver dan bisa mengurangi efisiensi
propeller.
- Stowage
harus menjaga kapal tetap even keel atau trim sesuai
yang diinginkan.
- Tujuan: Menjamin
kapal tetap mudah dikemudikan, aman saat sandar, dan efisien berlayar.
3. List (Kemiringan transversal – kiri/kanan)
- Pengaruh
muatan: Muatan yang tidak seimbang antara sisi kiri (port) dan
kanan (starboard) akan menimbulkan list.
- Prinsip
umum:
- Distribusi
kontainer harus seimbang kiri-kanan pada setiap bay.
- Hindari
penumpukan kontainer berat di satu sisi.
- Tujuan: Menjaga
kapal tetap tegak lurus (upright) sehingga aman saat operasi crane dan
berlayar.
Factors in Planning a Container Stow (dengan referensi ke Stresses)
Saat menyusun container stowage plan, selain
stabilitas, trim, dan list, seorang perwira juga harus memperhatikan tegangan
(stresses) yang timbul pada badan kapal akibat distribusi muatan.
1. Shearing Forces (Gaya Geser)
- Terjadi
karena perbedaan distribusi muatan antara satu bagian kapal dengan bagian
lain di sepanjang panjang kapal.
- Pengaruh
stowage:
- Jika
terlalu banyak kontainer berat ditaruh di depan atau belakang, gaya geser
di midship meningkat.
- Bisa
menyebabkan deformasi struktur (hogging/sagging).
- Solusi: Distribusikan
muatan secara merata sepanjang kapal, sesuai batas shear force
diagram dari stability booklet/ship’s loading computer.
2. Bending Moments
- Terjadi
karena muatan menyebabkan kapal melengkung (hogging =
melengkung ke atas, sagging = melengkung ke bawah).
- Pengaruh
stowage:
- Muatan
berat di ujung kapal → hogging.
- Muatan
berat di tengah kapal → sagging.
- Solusi: Perencanaan
stow harus menjaga bending moment tetap di bawah batas maksimum yang
diizinkan.
3. Torsional Stresses (Tegangan Puntir)
- Terjadi
bila muatan tidak seimbang antara sisi port dan starboard (asymmetric
loading).
- Pada
kapal kontainer modern yang panjang dan fleksibel, torsional stress dapat
merusak struktur deck dan hatch cover.
- Solusi: Muatan
harus seimbang kiri–kanan, serta memperhatikan penempatan kontainer heavy di
centerline bila memungkinkan.
4. Local Stresses
- Tekanan
berlebih pada area tertentu, misalnya:
- Hatch
covers (jika terlalu banyak kontainer berat di atas satu hatch).
- Tank
top/hold bottom (jika muatan terkonsentrasi di satu bay dalam
palka).
- Solusi: Ikuti
batas maximum stack weight dan maximum
permissible load per bay/row/tier sesuai kapal.
Factors in Planning a Container Stow (Stack Height & Weight)
1. Stack Height (Tinggi Tumpukan)
- Stability:
- Semakin
tinggi tumpukan kontainer di atas geladak (on deck), semakin
tinggi titik berat kapal (KG), sehingga stabilitas berkurang.
- Visibility:
- Tinggi
maksimum tumpukan di depan anjungan diatur oleh SOLAS Regulation
V/22 (Bridge visibility).
- Structural
Limits:
- Hatch
cover dan lashing system memiliki batas maksimum jumlah tier yang dapat
ditampung.
- Operational
Safety:
- Semakin
tinggi stack, semakin sulit untuk lashing, pengawasan, dan akses jika
terjadi darurat.
2. Weight (Berat Kontainer)
- Stack
Weight Limit:
- Setiap
bay, row, dan hatch cover memiliki maximum allowable stack weight.
Jika dilanggar → risiko kerusakan struktur.
- Heavy-Over-Light
Rule:
- Kontainer
berat harus ditempatkan di bawah, kontainer ringan di atas → untuk
mencegah tekanan berlebih pada kontainer yang lebih ringan.
- Tank
Top Load Limit:
- Kontainer
berat dalam hold tidak boleh melebihi maximum tank top load (batas
beban lantai ruang muat).
- Even
Distribution:
- Berat
harus merata di port–starboard dan fore–aft untuk mencegah trim, list,
dan torsional stress.
Factors in Planning a Container Stow (Dangerous Goods)
1. Compliance with IMDG Code
- Penataan
kontainer DG wajib mengikuti aturan International Maritime
Dangerous Goods (IMDG) Code.
- Termasuk:
klasifikasi, label, segregation table, stowage category, dan special
provisions.
2. Segregation Requirements
- Beberapa
barang berbahaya tidak boleh ditempatkan berdekatan
karena risiko reaksi berbahaya.
- Contoh:
- Class
4 (Flammable solids) tidak boleh dekat dengan Class 5 (Oxidizers).
- Class
1 (Explosives) butuh jarak aman dari akomodasi & mesin.
- Segregasi
bisa berupa: away from, separated from, separated
by a complete compartment, hingga separated longitudinally by
entire hold/compartment.
3. Stowage Categories
- IMDG
Code menentukan kategori penataan:
- On
deck only – misalnya untuk kontainer berisi explosive tertentu.
- Under
deck permitted – untuk bahan berbahaya tertentu dengan
pengawasan ventilasi dan akses yang baik.
4. Access & Emergency Response
- Kontainer
DG harus ditempatkan di posisi yang mudah diakses untuk
inspeksi dan tindakan darurat.
- Tidak
boleh dihalangi oleh muatan lain yang menghambat pemadaman atau evakuasi.
5. Compatibility with Other Cargo
- Harus
dicek apakah DG kompatibel dengan non-dangerous cargo di
sekitarnya.
- Contoh:
bahan makanan tidak boleh ditaruh bersebelahan dengan bahan kimia beracun
(Class 6).
6. Structural & Safety Considerations
- Hindari
penempatan kontainer DG berat di atas hatch cover melebihi batas beban.
- Bahan
korosif jangan ditaruh di dekat area yang bisa menyebabkan kerusakan
struktural.
7. Marking & Documentation
- Kontainer
DG harus memiliki label, placard, dan dokumen DG Declaration.
- Stowage
planner dan awak kapal wajib tahu posisi persis setiap kontainer DG.
Factors in Planning a Container Stow (Special Stowage Restrictions)
Dalam perencanaan stowage, ada kontainer tertentu yang
memiliki pembatasan khusus (special stowage restrictions).
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah:
1. IMDG Code Special Provisions
- Beberapa
barang berbahaya memiliki kode stowage khusus (misalnya “on
deck only”, “clear of living quarters”).
- Contoh:
- Class
1 (Explosives) → hanya boleh di designated area, tidak dekat
akomodasi.
- Class
2.1 (Flammable gases) → harus on deck only agar
ventilasi baik.
2. Temperature-Sensitive Cargo
- Barang
tertentu (misalnya refrigerant gases, chemicals) harus dijauhkan
dari sumber panas seperti mesin, boiler, atau ruang
akomodasi.
- Reefer
container butuh posisi dengan akses ke reefer plug.
3. Over-Dimensional or Out-of-Gauge (OOG) Containers
- Kontainer
OOG (flat rack, open top) butuh posisi khusus agar tidak mengganggu crane
operation atau visibilitas jembatan.
- Harus
di-stow di area yang memungkinkan lashing tambahan.
4. Heavy Containers
- Beberapa
kontainer berat memiliki restriksi:
- Tidak
boleh di atas hatch cover yang kapasitasnya terbatas.
- Harus
ditempatkan dekat centerline untuk mengurangi stress.
5. Cargo Requiring Ventilation
- Bahan
seperti batubara, logam tertentu, atau bahan organik yang menghasilkan gas
harus ditempatkan di ruang dengan ventilasi memadai (tidak closed
stow).
6. Prohibited Areas
- Beberapa
kontainer tidak boleh ditempatkan:
- Di
atas tangki bahan bakar.
- Dekat
ruang akomodasi atau ruang mesin.
- Menghalangi
akses jalur evakuasi dan peralatan darurat (fire hydrant, lifeboat).
7. Port or Terminal Restrictions
- Ada
pelabuhan yang menetapkan aturan tambahan:
- Tidak
menerima kelas barang tertentu.
- Membatasi
jumlah DG yang boleh diturunkan/diangkut.
Factors in Planning a Container Stow (Out of Gauge – OOG)
Out of Gauge (OOG) containers adalah kontainer
yang dimensinya melebihi ukuran standar ISO (20’ atau 40’), misalnya open
top, flat rack, atau kargo proyek yang menonjol keluar. Karena
bentuknya tidak standar, OOG perlu stowage planning khusus.
1. Safety & Lashing
- Kargo
OOG menonjol ke luar → tidak bisa masuk ke cell guide.
- Perlu lashing
tambahan (chain, wire, turnbuckle) dan kadang special
cribbing/dunnage.
- Penempatan
harus memungkinkan akses bagi crew/stevedore untuk pemasangan lashing.
2. Stability & Weight Distribution
- OOG
biasanya berat dan tidak simetris.
- Harus
ditempatkan dekat centerline kapal untuk mengurangi momen
puntir (torsional stress).
- Jangan
diletakkan di atas hatch cover yang tidak cukup kuat menahan berat.
3. Stacking Limitation
- Karena
dimensinya menonjol, OOG tidak boleh ditumpuk (non-stackable).
- Perlu
ruang bebas (clearance) di sekelilingnya.
- Mengurangi
efisiensi kapasitas kapal → harus diantisipasi dalam stowage plan.
4. Crane Operation & Accessibility
- Posisi
OOG harus memudahkan operasi crane saat loading/unloading.
- Hindari
stowage di lokasi yang menyulitkan akses atau berpotensi mengganggu
kontainer lain.
5. Visibility & Navigational Safety
- OOG
tidak boleh menghalangi pandangan dari anjungan (bridge visibility – SOLAS
V/22).
- Hindari
stowage di bay depan anjungan jika kargo terlalu tinggi.
6. Compatibility with Other Cargo
- OOG
dengan kargo sensitif (misalnya mesin dengan bagian tajam) tidak boleh
bersebelahan dengan kontainer berisi muatan mudah rusak.
- Jika
OOG adalah DG (Dangerous Goods) → harus memenuhi IMDG Code sekaligus
aturan OOG.
7. Port & Terminal Restrictions
- Beberapa
terminal memiliki aturan khusus untuk handling OOG (misalnya crane
capacity, lashing gang requirement).
- Planner
harus koordinasi dengan terminal untuk memastikan fasilitas tersedia.
Methods of Securing Containers on Deck
Karena di atas deck tidak ada cell guides (seperti
di dalam palka), kontainer harus diamankan dengan peralatan lashing agar tidak
bergeser akibat rolling, pitching, heaving, atau hembusan angin.
1. Twistlocks
- Dipasang
di corner casting antar kontainer secara vertikal.
- Fungsi:
mengunci kontainer satu dengan yang lain pada saat ditumpuk.
- Jenis
twistlock:
- Manual
twistlock → dipasang/dilepas secara manual oleh stevedore.
- Semi-automatic
twistlock (SATL) → terpasang otomatis saat ditaruh, dilepas
manual.
- Fully
automatic twistlock (FATL) → terpasang dan dilepas otomatis
dengan crane spreader.
2. Stacking Cones
- Digunakan
untuk menahan kontainer agar tetap sejajar saat ditumpuk.
- Biasanya
dipasang di antara kontainer pada tumpukan pertama.
3. Lashing Rods & Turnbuckles
- Lashing
rods: batang baja panjang yang dihubungkan dari corner casting
kontainer ke deck fitting.
- Turnbuckles: alat
penegang untuk mengencangkan lashing rods.
- Fungsi:
menahan kontainer agar tidak miring atau tergelincir ke samping akibat
gerakan kapal.
4. Lashing Bridges
- Struktur
baja permanen di atas deck (terutama kapal kontainer modern).
- Memungkinkan
pemasangan lashing rod pada tingkat yang lebih tinggi (tidak hanya di
dasar deck).
- Membantu
menahan tumpukan kontainer yang lebih tinggi.
5. Deck Fittings
- D-rings,
lashing eyes, twistlock foundation yang terpasang permanen di
deck/hatch cover.
- Berfungsi
sebagai titik ikat untuk turnbuckle dan lashing rod.
6. Chain Lashing / Wire Lashing (Tambahan)
- Digunakan
pada kasus khusus (misalnya kontainer OOG atau special cargo).
- Memberikan
kekuatan tambahan bila diperlukan.
Types and Sizes of Containers in Use
1. By Size (ISO Standard Dimensions)
Ukuran standar ISO (ISO 668) yang paling umum:
- 20
feet (TEU – Twenty-foot Equivalent Unit):
- Panjang:
20’ (6.06 m)
- Lebar:
8’ (2.44 m)
- Tinggi
standar: 8’6” (2.59 m)
- Tinggi high
cube: 9’6” (2.90 m)
- 40
feet (FEU – Forty-foot Equivalent Unit):
- Panjang:
40’ (12.19 m)
- Lebar:
8’ (2.44 m)
- Tinggi
standar: 8’6” atau 9’6” (high cube)
- 45
feet (extended):
- Panjang:
45’ (13.72 m)
- Lebar:
8’ (2.44 m)
- Tinggi
biasanya high cube (9’6”)
📌 Dalam perhitungan
kapasitas, 1 FEU = 2 TEU.
2. By Type (Functional Design)
- Dry
Van (General Purpose Container):
- Paling
umum, digunakan untuk barang kering.
- High
Cube Container:
- Tingginya
9’6” → lebih besar volumenya dibanding standar.
- Reefer
Container (Refrigerated):
- Dilengkapi
sistem pendingin → untuk buah, daging, obat-obatan.
- Open
Top Container:
- Atap
terbuka (dengan terpal) → untuk muatan tinggi/mesin.
- Flat
Rack Container:
- Tanpa
dinding samping/atap → untuk kargo berat atau OOG (Out of Gauge).
- Tank
Container (ISO Tank):
- Untuk
cairan kimia, bahan makanan cair, dan gas tertentu.
- Platform
Container:
- Dasar
datar tanpa dinding → untuk kargo proyek berat.
- Ventilated
Container:
- Memiliki
ventilasi → biasanya untuk kopi, kakao, atau hasil bumi.
3. By Special Purpose
- Bulk
Container: untuk muatan curah kering (grain, plastic pellets).
- Insulated
Container: isolasi panas/dingin tanpa mesin pendingin.
- Swap
Body Container (khusus Eropa): untuk multimoda (road-rail-sea).
Comments
Post a Comment