Periode / Interval Pemeriksaan Tangki Ballast
1. Pemeriksaan Rutin
- Dilakukan oleh Chief Officer atau petugas kapal secara visual.
- Frekuensi: setiap kali tangki dikosongkan atau dibersihkan, minimal
6 bulan sekali.
- Tujuan: memastikan kondisi coating, anoda, dan struktur tetap baik
serta bebas kebocoran.
2. Pemeriksaan Tahunan
- Dilakukan oleh perwira senior
bersama surveyor kelas atau perusahaan.
- Frekuensi: 1 kali per tahun,
biasanya bersamaan dengan Annual Survey.
- Tujuan: menilai tingkat korosi,
kondisi anoda, kerusakan coating, dan mencatat hasil pemeriksaan.
3. Pemeriksaan Menyeluruh
(Comprehensive / Dry Dock)
- Dilakukan saat kapal docking (±
2,5–5 tahun).
- Meliputi pemeriksaan internal
seluruh tangki, ketebalan baja (UTM), kondisi struktur, pipa ballast,
katup, dan coating.
- Tujuan: memastikan kekuatan dan
keselamatan jangka panjang.
4. Pemeriksaan Khusus
- Dilakukan bila ada indikasi kerusakan atau kebocoran.
- Dilaksanakan oleh Safety Officer.
5. Pemeriksaan Coating
(PSPC)
- Dilakukan setiap 5 tahun
bersamaan dengan Special Survey oleh klasifikasi.
Metode Pencegahan Korosi
Tangki Ballast
1. Pelapis Pelindung
(Protective Coating)
- Menggunakan epoxy coating sesuai IMO PSPC.
- Permukaan baja dibersihkan dengan standar blasting (Sa2.5).
- Ketebalan lapisan minimal 320 mikron.
2. Proteksi Katodik
- Pemasangan anoda korban (zinc/aluminium).
- Anoda diganti bila berat berkurang ±50%.
3. Praktik Operasional
- Hindari pengisian/pengosongan
cepat.
- Keringkan tangki setelah ballast
dibuang.
- Bilas dengan air tawar untuk
mengurangi sisa garam.
- Hindari kontaminasi minyak atau
bahan kimia.
4. Perawatan Tambahan
- Bersihkan lumpur dan sedimen di
dasar tangki.
- Ventilasi baik untuk mengurangi
kelembapan.
- Monitoring pH air ballast (ideal
6,5–8,5).
5. Aspek Keselamatan (MCA
Code)
- Pastikan ruang tangki gas-free
sebelum pekerjaan.
- Gunakan cat pelindung sesuai
standar keselamatan.
- Catat semua kegiatan pemeliharaan
dalam log book.
Tujuan Ballast Tanks
1.
Menjaga Stabilitas Kapal
o
Mengontrol keseimbangan
transversal dan longitudinal.
o
Mencegah list atau trim
berlebihan.
2.
Menyesuaikan Draft dan
Trim
o
Menjaga propeller dan
rudder tetap terendam.
o
Mengoptimalkan trim untuk
efisiensi bahan bakar.
3.
Mengontrol Tegangan
Struktur
o
Mengurangi hogging dan
sagging.
o
Mencegah kerusakan
struktural akibat distribusi muatan tidak merata.
4.
Meningkatkan Keamanan
Operasional
o
Menjaga posisi aman di
dermaga.
o
Menghindari over-stress
pada mooring lines.
5.
Mengontrol Dampak
Lingkungan
o
Sesuai Ballast Water
Management Convention (IMO).
o
Mencegah penyebaran
organisme laut dengan ballast exchange atau treatment system.
Konstruksi Tangki Ballast
- Pelat dasar & dinding: baja tebal, bagian dari lambung.
- Frames longitudinal &
transversal: memperkuat struktur.
- Stringers & brackets: penguat sambungan.
- Access manholes & ladders: akses inspeksi dan perawatan.
- Ventilation & air pipes: mencegah tekanan berlebih.
- Ballast inlet/outlet system: pipa ballast dengan valve dan kontrol jarak jauh.
Jenis tangki ballast:
- Double bottom tank → stabilitas
vertikal, melindungi dasar kapal.
- Wing tank → mengatur keseimbangan
transversal.
- Fore peak tank → mengatur trim
haluan.
- Aft peak tank → mengatur trim
buritan, melindungi stern tube.
Bagian Tangki Ballast yang
Rentan Korosi
1.
Waterline / Splash Zone: area basah-kering bergantian → korosi oksigen diferensial.
2.
Tank Bottom & Corners: endapan lumpur/garam → crevice corrosion, MIC.
3.
Weld Seams & Bracket
Connections: rawan korosi galvanik.
4.
Sekitar Anoda &
Fittings: arus listrik tidak merata → korosi
lokal.
5.
Top Side & Deckhead
Area: kondensasi → korosi pitting.
Faktor mempercepat korosi: ventilasi buruk, coating rusak, air ballast tercemar
minyak, kurang inspeksi rutin.
Pencegahan: inspeksi visual berkala, epoxy coating, pemasangan anoda
sesuai standar, kebersihan tangki, ventilasi baik.
Referensi:
1.
ICF, OCIMF &
IAPH, International Safety Guide for Oil Tankers and Terminals (ISGOTT),
5th Edition, 2006
2.
Lavery, H.L., Shipboard
Operations, 2nd Edition, Butterworth-Heinemann, 1990
3.
Maritime and Coastguard
Agency (MCA), Code of Safe Working Practices for Merchant Seamen,
1998 (Consolidated Edition 2009)
Comments
Post a Comment